Posted by : Unknown Wednesday, 27 May 2015






Pemburu Koin di Pelabuhan Gilimanuk ---
Demi Rp 5 Ribu, Tinggalkan Bangku Sekolah 


Masyarakat pengguna jasa penyeberangan di Selat Bali (Pelabuhan Gilimanuk maupun Pelabuhan Ketapang) pastitidak asing lagi melihat kumpulan anak-anak dan remajatanggung yang terapung di perairan. Mereka denganlincahnya meliuk-liukkan badan di pinggiran kapal-kapalpenyeberangan. Tujuannya hanya satu. Memburu uang koinyang dilemparkan penumpang kapal. Bagaimana sebenarnyakehidupan mereka?

KAPAL-KAPAL penyeberangan yang nyandar di pelabuhan menjadi tumpuanharapan mereka. Begitu koin dilemparkan dengan sigap mereka menyelam.Sejenak, tubuh mereka hilang ditelan air laut yang membiru. Tak lamakemudian, mereka muncul lagi dengan mengepalkan tangan dan menunjukkanuang yang berhasil didapat. Uang logam Rp 100, Rp 500 dan Rp 1.000 inilahyang dikumpulkan dari satu kapal ke kapal lain.
Satu hari paling sedikit mendapat Rp 5 ribu, tutur Fendi, bocah Ketapang yangsudah biasa melakoni rutinitas itu. Di saat teman-teman sebayanya duduk dibangku sekolah, dia harus bekerja untuk bisa membeli makanan. Fendi mengakukelas VI SD, namun dia meninggalkan sekolah agar bisa menyambung hidup.Kalau uang yang didapat lebih dari Rp 5 ribu, uang itu juga dibelikan beras.
Hal senada juga diungkapkan pemburu yang usianya menginjak remaja. Kadang-kadang bisa mendapat Rp 30 ribu. ''Uangnya buat beli makan bos. Kalau adalebih saya tabung,'' ujar remaja yang selalu menyebut lawan bicaranya denganbos. Menyelam dan memburu uang ini sudah mereka lakukan sejak kecil.Tempat tinggal mereka yang dekat dengan pelabuhan membuat ladangpencarian rezeki mereka tidak jauh dari pelabuhan.
Tak sedikit pun terbersit ketakutan di wajah mereka. Menyelam bahkan terjundari kapal sudah biasa mereka lakoni. Demi recehan mereka berani melakukanaktivitasnya itu.
Selain mencari koin, mereka juga seringkali unjuk kebolehan seperti layaknyaatlet loncat indah atau seperti turis bule yang sedang bungee jumping.Tujuannya jelas, dapat upah dari penumpang kapal. Upahnya lumayan. Bisa Rp1.000 atau lebih. Upah ini mereka dapat setelah naik lagi ke kapal. Jarak antaraatap kapal hingga ke air sekitar 7 meter dan mereka melakukan itu tanpapengamanan apa pun. Hanya pakaian biasa. Kaca pelindung pun tidak semuanyapunya.
Salah seorang penumpang kapal bernama Gus Mang mengatakan senang denganatraksi yang ditunjukkan para penerjun. ''Saya sebenarnya kasihan dengan anak-anak itu. Mereka kan seharusnya sekolah, tapi sekarang harus mencari uanguntuk bisa makan,'' ujar pria yang mengaku sudah mengeluarkan dua lembaruang Rp 1.000 dan dua uang logam Rp 500 untuk menyaksikan atraksi anak-anakitu.
Ketika mesin kapal mulai hidup dan bergerak perlahan meninggalkan PelabuhanGilimanuk, mereka pun mulai menjauhi kapal. Sasaran berikutnya adalah kapalyang lain.
Kalau tidak mood menyelam, mereka memilih duduk-duduk di dermaga. Namunbegitu, melihat rekannya mulai nyebur, mereka pun tergoda. Koin demi koinmereka kumpulkan untuk menyambung hidup. (wah)







Pemburu Koin di Pelabuhan Gilimanuk Panen Rejeki
·          

Padatnya arus penyebrangan di Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, saat liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) membawa berkah bagi belasan tukang selam pemburu koin yang mangkal di pelabuhan Gilimanuk. Mereka mengaku penghasilannya meningkat dari hari-hari biasanya.

Pantuan di lapangan, Minggu (4/1), tukang selam koin yang rata- rata berumur belasan tahun sejak pagi sudah mangkal di 3 dermaga kapal penumpang.

Mereka rela berendam berlama-lama di laut sambil berterik- teriak agar penumpang kapal berbaik hati melempar uang receh pecahan 100, 500 dan 1000.

Untuk mendapat hasil maksimal, mereka rela mempertontonkan aksi berbahaya dengan melompat dari atas kapal sambil jungkir balik demi untuk memikat penumpang kapal agar bersedia melemparkan uang receh kepadanya.

Begitu uang receh itu dilempar oleh penumpang kapal, tukang selam koin ini langsung berebutan menyelam tanpa alat bantu pernafasan. Begitu uag receh tersebut berhasil ditangkap, mereka menunjukkannya kepada penumpang kapal lalu menyimpannya di mulut mereka.

"Saat penumpang ramai seperti ini, penghasilan kami lumayan bertambah," ujar Ahmad, salah sorang penyelam koin.

Menurutnya, dalam sehari masing-masing tukang selam koin ini bisa mendapatkan uang antara Rp. 15 ribu hingga Rp. 20 ribu.

"Kalau hari-hari biasa paling-paling lima ribu sampai sepuluh ribu saja," ujarnya. (dey)



Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Akbar Danu Bekti - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -